Penulis: Rebeka Palma, Anjelia
Dewintan Boe, Tias Ernawati
Pendidikan IPA,
Universitas Sarjanwiyata Tamansiswa, Jl.Batikan UH
III/1043 Yogyakarta
Email: Rebekapalma82@gmail.com,
anjeliadewintan@gmail.com, tias.ernawati@ustjogja.ac.id.
Abstrak
Literasi
sains merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki siswa dalam menghadapi
tantangan abad ke-21. Namun, berbagai hasil studi menunjukkan bahwa tingkat
literasi sains siswa SMP di Indonesia masih tergolong rendah, khususnya dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Rendahnya literasi sains ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pembelajaran yang belum berpusat
pada siswa, kurangnya variasi strategi pembelajaran, serta belum optimalnya
penerapan model pembelajaran yang mendorong proses berpikir ilmiah. Artikel ini
bertujuan untuk mengkaji pembelajaran berdiferensiasi berbasis model
Predict–Observe–Explain (POE) sebagai alternatif dalam meningkatkan literasi
sains siswa SMP. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan
menganalisis berbagai artikel jurnal nasional dan internasional yang relevan
dengan literasi sains, pembelajaran berdiferensiasi, dan model POE. Hasil
kajian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi mampu mengakomodasi
perbedaan kebutuhan, kesiapan, dan gaya belajar siswa, sementara model POE
efektif dalam melatih keterampilan berpikir ilmiah melalui kegiatan
memprediksi, mengamati, dan menjelaskan fenomena IPA. Integrasi pembelajaran
berdiferensiasi dengan model POE berpotensi meningkatkan pemahaman konsep,
keterampilan berpikir kritis, serta literasi sains siswa SMP. Oleh karena itu,
pembelajaran berdiferensiasi berbasis POE dapat dijadikan sebagai alternatif
strategi pembelajaran IPA untuk meningkatkan literasi sains siswa.
Kata Kunci: Literasi Sains; Pembelajaran Berdiferensiasi; Model POE
Pendahuluan
Abad
ke-21 ditandai oleh tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam
berbagai aspek kehidupan. Pemenuhan kebutuhan hidup pada era ini semakin
bergantung pada penguasaan pengetahuan dan kemampuan berpikir ilmiah.(Sains
et al., 2023). Pendidikan juga
berperan penting dalam mempersiapkan abad 21 sehingga peserta didik dituntut
untuk memiliki kemampuan yang cakap. Pendidikan merupakan upaya untuk membentuk
manusia yang berkarakter dan berkualitas melalui pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA) (L.
B. Safitri & Dimas, 2021).
Literasi
sains merupakan salah satu kompetensi penting abad ke-21 yang wajib dikuasai
oleh siswa. Kompetensi ini tidak hanya mencakup pemahaman terhadap
konsep-konsep ilmiah, tetapi juga kemampuan untuk menerapkannya dalam pemecahan
masalah sehari-hari serta dalam pengambilan keputusan yang berbasis bukti(Ramadhan
et al., 2025). Literasi sains
merupakan kompetensi esensial yang perlu dikuasai peserta didik agar mampu
menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang pada era digital secara kritis
dan bertanggung jawab. (Humaira
& Aprison, 2024).
Menurut
Schleicher (2023) literasi sains
merupakan kemampuan untuk menggunakan, memahami, serta mengevaluasi sebuah
informasi dan berkontribusi dalam
masyarakat. Namun demikian, berbagai hasil penelitian dan laporan internasional
menunjukkan bahwa tingkat literasi sains peserta didik SMP di Indonesia masih
tergolong rendah. PISA mendefinisikan literasi sains sebagai kemampuan untuk
mengaitkan fenomena atau isu sains dengan pengetahuan sains dalam
pengaplikasian kedalam kehidupan sehari-hari (Komarayanti,
2023).
Hasil
penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022
menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains siswa Indonesia masih berada pada
peringkat ke-64 dari 78 negara peserta dengan
skor literasi sains
mencapai 383 (OECD, 2022), (Dwijayanti et al., 2024). Kondisi ini
menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA di sekolah belum secara optimal
mendukung pengembangan literasi sains siswa. Pembelajaran masih didominasi oleh
penguasaan konsep secara hafalan, sedangkan kemampuan siswa dalam menganalisis
fenomena, menginterpretasikan data, serta mengemukakan penjelasan ilmiah belum
berkembang dengan baik. Rendahnya
tingkat literasi sains
diduga disebabkan oleh kurangnya kebiasaan peserta didik dalam mencari,
mengolah, dan menghubungkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
Salah satu faktor yang memengaruhi rendahnya kemampuan literasi sains di
kalangan peserta didik Indonesia adalah kurangnya keterlibatan mereka dalam
proses penemuan informasi dari bacaan.(Dwijayanti
et al., 2024)(Fuadi et al., 2020).
Salah
satu pendekatan yang dinilai relevan untuk mengatasi permasalahan tersebut
adalah pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan
strategi pembelajaran yang dirancang untuk mengakomodasi perbedaan kesiapan
belajar, minat, dan profil belajar siswa melalui penyesuaian konten, proses,
maupun produk pembelajaran (N.
Safitri et al., 2023).
Karakteristik atau ciri pembelajaran diferensiasi menurut Maryam (2021:34)
antara lain: lingkungan belajar yang mengundang peserta didik untuk belajar,
ada dalam kurikulum pembelajaran yang ditentukan secara objektif jelas,
penilaian terus menerus, guru bereaksi atau memenuhi kebutuhan pembelajaran
peserta didik dan manajemen kelas yang efektif (Komarayanti,
2023).
Dalam
konteks pembelajaran IPA, pembelajaran berdiferensiasi proses memungkinkan guru
merancang aktivitas belajar yang bervariasi sehingga setiap siswa dapat
terlibat aktif sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, pembelajaran
berdiferensiasi berpotensi meningkatkan keterlibatan siswa dan mendukung
pengembangan literasi sains secara lebih optimal.
Selain
pendekatan berdiferensiasi, pemilihan model pembelajaran yang mendorong
keterampilan berpikir ilmiah juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan
literasi sains siswa. Model Predict–Observe–Explain (POE) merupakan salah satu
model pembelajaran yang menekankan proses berpikir ilmiah melalui tiga tahapan
utama, yaitu memprediksi suatu fenomena, mengamati hasil percobaan atau
peristiwa, dan menjelaskan perbedaan antara prediksi dan hasil pengamatan(Abdawiyah
et al., 2016). Model POE terbukti
efektif dalam membantu siswa membangun pemahaman konsep secara konseptual,
melatih keterampilan berpikir kritis, serta meningkatkan kemampuan menjelaskan
fenomena sains secara logis dan ilmiah.
Model
POE merupakan strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa
untuk memperoleh informasi, mengamati fenomena, dan menyampaikan hasil. POE
juga merupakan model pembelajaran yang membantu dan mendukung siswa dalam
desain proyek (Hilario, 2015); (Anas
et al., 2023)
Integrasi
pembelajaran berdiferensiasi dengan model POE dipandang sebagai alternatif
strategi pembelajaran yang potensial untuk meningkatkan literasi sains siswa
SMP. Dalam konteks pendidikan, diferensiasi mengacu pada penyesuaian pengajaran
yang memenuhi kebutuhan siswa tertentu dan cara mereka belajar (Wulandari, 2022
;(N.
Safitri et al., 2023).
Pembelajaran
berdiferensiasi memberikan ruang bagi perbedaan karakteristik siswa, sementara
model POE memperkuat proses berpikir ilmiah melalui aktivitas belajar yang
aktif dan bermakna. Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji pembelajaran
berdiferensiasi dan model POE secara terpisah, kajian yang mengintegrasikan
kedua pendekatan tersebut khususnya dalam upaya peningkatan literasi sains
siswa SMP masih terbatas.
Berdasarkan
uraian tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif
pembelajaran berdiferensiasi berbasis model Predict–Observe–Explain (POE)
sebagai alternatif peningkatan literasi sains siswa SMP melalui studi
literatur. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan
praktis bagi pengembangan strategi pembelajaran IPA yang lebih efektif dalam
meningkatkan literasi sains siswa.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode studi literatur
dengan pendekatan kajian naratif untuk menganalisis potensi pembelajaran
berdiferensiasi berbasis model Predict–Observe–Explain (POE) dalam
meningkatkan literasi sains siswa SMP. Proses pengumpulan data dilakukan dengan
menelusuri artikel ilmiah yang relevan melalui basis data Google Scholar dan
portal jurnal nasional, menggunakan kata kunci literasi sains, pembelajaran
berdiferensiasi, model POE, dan pembelajaran IPA SMP. Artikel
yang dianalisis merupakan publikasi 10 tahun terakhir (2015–2025) dalam bentuk
jurnal nasional terakreditasi dan jurnal internasional bereputasi. Kriteria
inklusi dalam studi ini meliputi: (1) artikel yang membahas literasi sains
dalam pembelajaran IPA, (2) artikel yang mengkaji pembelajaran berdiferensiasi
atau model POE, dan (3) artikel yang relevan dengan jenjang pendidikan dasar
dan menengah. Adapun kriteria eksklusi meliputi artikel yang tidak melalui
proses peer review dan artikel yang tidak memiliki keterkaitan langsung
dengan topik kajian.
Analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan,
yaitu: (1) identifikasi dan seleksi artikel, (2) pengelompokan artikel
berdasarkan tema kajian, (3) analisis isi terhadap temuan penelitian, dan (4)
sintesis hasil kajian untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai integrasi
pembelajaran berdiferensiasi berbasis POE dalam meningkatkan literasi sains
siswa SMP. Hasil kajian disajikan secara deskriptif-analitis dengan mengaitkan
temuan penelitian terdahulu dan kerangka konseptual literasi sains.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan
hasil telaah terhadap berbagai artikel jurnal nasional dan internasional,
literasi sains siswa SMP dalam pembelajaran IPA masih tergolong rendah. Temuan
ini ditunjukkan oleh keterbatasan siswa dalam mengaitkan konsep IPA dengan
fenomena kehidupan sehari-hari, menafsirkan data hasil pengamatan, serta
menyampaikan penjelasan ilmiah secara logis dan sistematis. Kondisi tersebut
erat kaitannya dengan praktik pembelajaran IPA yang masih berorientasi pada
guru dan menekankan hafalan konsep, sehingga siswa kurang memperoleh pengalaman
belajar yang menuntut keterampilan berpikir ilmiah. Selain itu, perbedaan
kemampuan awal, minat, dan gaya belajar siswa yang belum diakomodasi secara optimal
turut berkontribusi terhadap rendahnya keterlibatan dan pemahaman siswa dalam
pembelajaran IPA.
Hasil
kajian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi memiliki potensi dalam
mengakomodasi perbedaan kebutuhan, kesiapan, dan karakteristik belajar siswa,
sehingga meningkatkan keterlibatan aktif dalam pembelajaran IPA. Pembelajaran
berdiferensiasi proses memungkinkan penyesuaian aktivitas belajar sesuai dengan
kesiapan dan karakteristik siswa, sehingga siswa dapat berpartisipasi aktif
dalam pembelajaran IPA. Di sisi lain, penerapan model Predict–Observe–Explain
(POE) terbukti efektif dalam melatih keterampilan berpikir ilmiah melalui
tahapan memprediksi, mengamati, dan menjelaskan fenomena sains. Integrasi
pembelajaran berdiferensiasi dengan model POE memberikan pengalaman belajar
yang lebih bermakna, karena siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis,
tetapi juga membangun pengetahuan melalui proses ilmiah yang sesuai dengan
kemampuan masing-masing. Dengan demikian, pembelajaran berdiferensiasi berbasis
POE dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang efektif untuk
meningkatkan literasi sains siswa SMP dalam pembelajaran IPA.
Penelitian
ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, kajian ini terbatas pada artikel
yang tersedia secara daring dan dapat diakses oleh penulis, sehingga
kemungkinan masih terdapat penelitian relevan yang belum terakomodasi. Kedua,
metode studi literatur bersifat konseptual sehingga hasil kajian belum didukung
oleh data empiris langsung di lapangan. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya
disarankan untuk melakukan studi eksperimen atau penelitian tindakan kelas guna
menguji secara empiris efektivitas pembelajaran berdiferensiasi berbasis model
POE terhadap peningkatan literasi sains siswa SMP.
Daftar Pustaka
Abdawiyah, R., Roektiningroem, E. &, & Wibowo, S.
W. (2016). Pengaruh Model Pembelajaran Poe (Predict-Observe-Explain) Terhadap
Pemahaman Konsep Dan Keterampilan Proses Peserta Didik Kelas VIII SMP N 1 Banguntapan.
Jurnal Pendidikan Matematika Dan Sains.
Anas, N., Rizky, R., Adhani, I., Chairany Hsb, P., &
Handayani, N. (2023). Pengaruh POE (Predict, Observe, Explain) terhadap
Kemampuan Kolaborasi Siswa. Tarbiatuna: Journal of Islamic Education Studies,
3(2), 243–249. https://doi.org/10.47467/tarbiatuna.v3i2.3319
Dwijayanti, I., Devega, L. S., & Guru, P. (2024). Efektivitas
Model Pembelajaran PjBL Berdiferensiasi terhadap Kemampuan Literasi Sains Aspek
Kompetensi Sekolah Dasar Kelas V. 5, 512–518.
Ilmu, J., Dan, K., Politik, S., Puspitasari, D., &
Ariani, T. (2024). Model Pembelajaran POE ( Predict Observe Explain )
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Sosial Politik.
02(02), 521–525.
Ismail, A., Veronica, A., Fatimatuzzahro, & Aminudin,
S. (2024). Analisis Pemahaman Peserta Didik Tingkat SMP Terhadap Konsep
Pengendalian Hayati Pada Materi. Jurnal Penelitian Ilmu Dan Pendidikan
Biologi, 1(2), 12–24.
Komarayanti, S. (2023). Implementasi Pembelajaran
Diferensiasi dengan Model PBL untuk Meningkatkan Literasi Sains Siswa Kelas X .
2 SMAN Rambipuji. 1–11.
Ramadhan, H., Saputro, S., & Mahardiani, L. (2025). Kajian
Sistematis Model Pembelajaran IPA untuk Meningkatkan Literasi Sains Peserta
Didik : Perspektif Pendekatan Deep Learning. September, 11–26.
Safitri, L. B., & Dimas, A. (2021). Analisis Buku
Ajar IPA SMP Pada Materi Pencemaran Lingkungan Ditinjau dari Aspek Literasi
Sains. PISCES (Proceeding of Integrative Science Education Seminar), 1(2017),
581–586.
Safitri, N., Safriana, S., & Fadieny, N. (2023).
Literatur Review: Model Pembelajaran Berdiferensiasi Meningkatkan Hasil Belajar
Peserta Didik. Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Fisika (JPIF), 246–255.
https://journal.uniga.ac.id/index.php/jpif/article/view/2811%0Ahttps://journal.uniga.ac.id/index.php/jpif/article/download/2811/1746
Sains, L., Pendidikan, J., Volume, I. P. A., Studi, P.,
Ipa, P., Universitas, F., Author, C., Analisis, A., Literasi, R., Peserta, S.,
Indonesia, D., Pisa, H., Penyebab, F., Review, N. S., & Scholar, G. (2023).
ANALISIS RENDAHNYA LITERASI SAINS PESERTA DIDIK INDONESIA : HASIL PISA DAN
FAKTOR PENYEBAB. 13, 11–19. https://doi.org/10.24929/lensa.v13i1.283

No comments:
Post a Comment