I. Pendahuluan
Konten Kreator Primitif
Dalam era revolusi teknologi, kemajuan digital telah
membawah manusia pada suatu kehidupan baru, kehidupan yang serba cepat,
terbuka, transparan dan terbuka. Ekonomi kreatif kini berperan sebagai pilar
baru dalam mengaklerasi pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui
kontribusi generasi muda yang inofatif dan mampu beradaptasi dengan teknologi. Salah
satunya adalah konten kreator. Peran mereka tidak hanya sebatas hiburan, tetapi
juga sebagai penggerak ekonomi, penyedia lapangan kerja dan pembentuk opini public
dan Indonesia menjadi salah satu pasar kreator terbesar di asia Tenggara dengan
peluang menetisasi yang berkembang pesat seiring peningkatan konsumsi konten
video pendek.[1]
Biasanya konten kreaatif tersebut mendistribusikan
konnten-konten yang bernuansa edukatif dan juga hiburan melalui platform
digital seperti youtube dan facebook. Terbaru data Jumlah konten kreator saat
ini ada sekktar 17 juta orang, di mana 8 juta di antaranya menjadikan kegiatan
ini sebagai pekerjaan utama, 63 persen dari mereka memperoleh hasil di atas UMR.[2] Angka-angka
ini menunjukkan bahwa konten kreator telah menjadi lahan penghasil cuan saat
ini. Namun, terlepas dari semuanya itu masih ada konten kreator yang belum memahami dan belum bijak dalam berkonten
dengan kratif dan bijak.
Dibalik gemerlapnya teknologi dan transformasi digital muncul pula
sisi gelap yang berdampak buruk terhadap kehidupan sosial masyrakat, baik
kehidupan secara langsung maupun interaksi melalui media sosial. Fenomena
eksploitasi terhadap penderitaan sesama demi popularitas dan engagement
menjadi bukti nyata krisis moral di dunia gital saat ini.
Akhir-akhir ini, di berbagai platform media sosial seperti
facebook, instagram, WA dan sebagainya ramai orang membagikan video-video
berdurasi pendek maupun foto yang seharusnya tidak pantas untuk di publikasikan.
Dari sekian banyaknya konten yang beredar, salah satu unggahan di platform
(facebook) yang sangat tidak wajar adalah unggahan peristiwa banjir bandang di Mauponggo.
Banjir Bandang di Mauponggo tidak hanya meninggalkan bekas keganasan alam.
Tetapi jauh di lubuk hati para korban dan saksi, juga masih tersisa rasa sakit
dan luka dan duka untuk kehilangan baik harta maupun kerabat yang mereka alami.
Kejadian ini tentu meninggalkan beban trauma yang membuat mereka bahkan tidak
berani untuk membayangkan dan berpikir kembali apa yang sudah terjadi.
Banyak orang maupun kelompok yang sudah dengan
caranya masing-masing memberikan bantuan juga melakukan segala sesuatu untuk membantu,
juga untuk sekedar menunjukkan rasa empati. Karena duka mereka adalah duka kita
semua. Banyak yang turun langsung mencari para korban, mengumpulkan dana dari
jauh dan mengirimkan ke sana, dan ada juga yang mungkin hanya mampu menyelipkan
harapan dan permohonan dalam doa yang hanya Tuhan yang mendengarkan.
Ada juga kelompok kategori manusia yang juga merasa
menunjukkan empati, tetapi batasannya tipis dengan exploitasi terhadap para
korban. Para oknum pengguna FB pro yang merasa diri konten kreator. Mereka
memberikan empati dengan cara membagikan setiap update tentang kejadian di
sana, bukan soal informasi terkini, tetapi malah foto dan video para korban dan
keluarganya, lalu mendramatisir bencana dengan menambahkan lagu-lagu sedih atau
narasi-narasi yang sebenarnya bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan
hanya menambah luka dan trauma di kemudian hari.
II.
Pembahasan
I.
Kebajikan Intelektual vs
Konten kreator Primitif
Kualiatas intelektual seseorang mencerminkan
keutamaan diri dalam berinteraksi dengan orang lain.[3]
Orang yang memiliki kebajikan intelektual tidak hanya cerdas secara kognitif,
tetapi juga memiliki kemampuan membedakan antara yang baik dan yang buruk,
antara yang pantas dan tidak pantas. Di era revolusi teknologi seperti
sekarang, kebajikan ini menjadi fondasi penting agar manusia tidak kehilangan
arah. Kebajiakn intelektual menjadi salah satu alternatif yang menjadi fondasi
pencapaian kebijakasanaan dalam mengahadapi persoalan berkenaan dengan revolusi
teknolgi saat ini.[4]
Kebajikan ini mestinya tertular luas dalam
masyarkat. Ini sebagai bentuk siaga untuk menghadapi bentuk negatif dari
perubahan tersebut. Kebajikan intelektual merupakan bentuk keutamaan yang lahir
dari kemampuan berpikir jernih, berperilaku etis, dan bertindak berdasarkan
kesadaran moral.
Teknologi adalah hasil dari kecerdasan manusia
tetapi tanpa kebijaksanaan, teknologi dapat menjadi pedang bermata dua. Ia bisa
membangun, tetapi juga bisa menghancurkan. Kita sadari bahwa kita hidup di
zaman di mana like dan komentar seringkali jadi ukuran harga diri. Karena itu
banyak orang bekerja bukan karena ingin berkembang tetapi ingin dilihat. Di
tangan orang yang berakal budi, teknologi melahirkan kemajuan. Namun di tangan
mereka yang haus sensasi dan miskin empati, teknologi justru menjadi alat
eksploitasi terhadap sesama manusia.
Sayangnya, revolusi digital justru menciptakan
budaya baru, budaya pementasan diri. Segala hal seolah harus direkam dan
dibagikan, bahkan duka dan kematian sekalipun. Dunia maya menjadi arena
kompetisi popularitas, di mana nilai moral sering dikorbankan demi angka
penonton dan tanda suka. Inilah paradoks besar era digital ketika kemajuan
teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan moral manusia.
Kebajikan intelektual menuntun kita untuk berpikir
sebelum bertindak, termasuk dalam hal memproduksi dan menyebarkan konten
digital. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa direkam harus
dipublikasikan, dan tidak semua peristiwa layak dijadikan bahan tontonan. Orang
yang berakal budi akan memahami bahwa di balik setiap gambar dan video, ada
realitas kehidupan manusia lain yang memiliki hak atas privasi, martabat, dan
rasa hormat.
II.
Kemajuan Teknologi
Tanpa Kendali Moral: Tantangan Zaman
Realitas kehidupan manusia saat ini tidak dapat
dipisahkan dari keberadaan teknologi.[5] Kekuatan dan magnetik dari revolusi teknolgi
tidak dapat dilenyapkan lagi. Kekuatanya tak terbendungkan. Kemajuan
teknologi di era kontemporer memiliki dampak yang signifikan, dengan berbagai
penemuan dan pembaruan baru yang terus dilakukan setiap hari. Penemuan dan
pengunaan alat-alat teknologi merupakan sebuah kemajuan berharga yang di capai
manusia dalam peradabapannya.[6]
Namun, Ketika kemajuan ini tidak diimbangi dengan dengan pengendalian moral, keberadaan
teknologi justru dapat merusak moral para pengguannya.
Manusia sejatinya ialah makhluk individu dan makhluk
sosial. Dari saat ia lahir sampai saat ia meninggal, interaksi seseorang
manusia dengan orang lain selalu membangun sifat sosialnya.[7] Keberadaan
manusia saat ini telah mengalami sejumalah perkembangan dan modifikasih.
Fenomena yang menggambarkan berbagai transformasi dan kemajuan, seperti ilmu pengetahuan,
teknolgi yang maju, perubahan iklim global dan pertumbuhan penduduk.[8] Fenomena
ini menunjukan bahwa evolusi dunia teknologi modern menjadikan manusia sebagai
salah satu tujuannya dan bahkan seluruh keperibadian manusia diubah menjadi objek
dari perubahan itu sendiri.[9]
III.
Penutup
Banjir Bandang Mauponggo, yang bagi mereka di sana
adalah sebuah bencana, diubah menjadi lahan basah untuk mencari view, like, dan
meningkatkan engagment[10]
antara kreator dan followersnya. Duka bagi mereka, rezeki bagi saya. Demikian
mungkin konsep berpikir mereka. Mereka adalah kelompok orang yang menggunakan
barang paling canggih dengan cara paling primitif.
Sebagai mahkluk berakal hemat saya ada satu dua
halyang perlu diperhatikan dalam berinteraksi di dunia maya dan menjadi hal
yang perlu di perhatikan serta menjadi catatan
untuk kita pikirkan sebelum mengupload konten-konten kita.
Pertama, mari kita
jadikan media sosial sebagai ruang berbagi empati, bukan panggung exploitasi
atas penderitaan dan duka orang lain. Pikirkan bahwa luka dan duka korban adalah
hal yang nyata dan benar-benar dirasakan oleh orang yang mengalaminya, itu
bukan bahan yang layak dijadikan tontonan untuk meningkatkan popularitas. Kedua,
kalau mau bantu dan berempaty, lakukan dengan cara yang benar: Berdoa,
berdonasi, atau membagikan informasi-informasi resmi dan aktual tanpa menambah
trauma dan duka. Pikirkan bahwa menghormati privasi dan perasaan korban jauh
lebih mulia dari sekedar mencari like dan view. Terakhir, seperti yang
sudah banyak orang teriakkan. Stop jadikan kesedihan orang lain sebagai lahan
konten, karena kemanusiaan lebih berharga daripada popularitas semu.
Kalau kita memiliki akun Facebook, Tiktok,
Instagram, dan segala macam media sosial lain dan masih ada gambar atau video
banjir, orang meninggal, korban kecelakaan, narasi-narasi yang mendramatisir
bencana dan duka, segala macam jenis konten yang mengeksploitasi orang lain dan
menimbulkan trauma, berarti kita sudah yang saya maksud sebagai konten kreator
primitif tu. Hapus sudah!
[1] https://share.google/MIB7o1MYXGvIXTk7C
di akses 10 November 2025
[2] https://share.google/ZKFNnm17Wy%cpzg43,
di akses pada 10 November 2025
[3] Florida
Sasi, Mengendus
Kebenaran Meraih Kebijaksanaan,
(Maumere: Ledalero. 2019), hlm. 85
[4] Ibid,
hlm. 89
[5]
Agusto Ameida da Silva, Filsafat teknologi, (Banyumas: Amerta Media)
2023, hlm. 85
[6]
Isodorus Lilidjawa, Perempuan Media dan Politik, (Maumere: Ledalero,
2010), hlm. 111
[7] Ibid,
Agusto Ameida da Silva, hlm. 3
[8] Ibid,
hlm. 1
[9] Ibid
[10] Engagment merupakan interaksi atau
keterlibatan antara merek/individu dengan audiensnya, yang biasanya diukur melalui
respon seperti like, komentar di berbagai konten di media sosial.
.png)
No comments:
Post a Comment