Iklan

Kebajikan Intelektual: Fondasi Kebijaksanaan di Era Konten kreator Primitif

Thursday, 19 February 2026 | February 19, 2026 WIB Last Updated 2026-02-19T08:19:53Z

 

Penulis: Maksimilianus Oswin Lise

I.     Pendahuluan

Konten Kreator Primitif

Dalam era revolusi teknologi, kemajuan digital telah membawah manusia pada suatu kehidupan baru, kehidupan yang serba cepat, terbuka, transparan dan terbuka. Ekonomi kreatif kini berperan sebagai pilar baru dalam mengaklerasi pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui kontribusi generasi muda yang inofatif dan mampu beradaptasi dengan teknologi. Salah satunya adalah konten kreator. Peran mereka tidak hanya sebatas hiburan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi, penyedia lapangan kerja dan pembentuk opini public dan Indonesia menjadi salah satu pasar kreator terbesar di asia Tenggara dengan peluang menetisasi yang berkembang pesat seiring peningkatan konsumsi konten video pendek.[1]

Biasanya konten kreaatif tersebut mendistribusikan konnten-konten yang bernuansa edukatif dan juga hiburan melalui platform digital seperti youtube dan facebook. Terbaru data Jumlah konten kreator saat ini ada sekktar 17 juta orang, di mana 8 juta di antaranya menjadikan kegiatan ini sebagai pekerjaan utama, 63 persen dari mereka memperoleh hasil di atas UMR.[2] Angka-angka ini menunjukkan bahwa konten kreator telah menjadi lahan penghasil cuan saat ini. Namun, terlepas dari semuanya itu masih ada konten          kreator yang belum memahami dan belum bijak dalam berkonten dengan kratif dan bijak.

Dibalik gemerlapnya teknologi dan transformasi digital muncul pula sisi gelap yang berdampak buruk terhadap kehidupan sosial masyrakat, baik kehidupan secara langsung maupun interaksi melalui media sosial. Fenomena eksploitasi terhadap penderitaan sesama demi popularitas dan engagement menjadi bukti nyata krisis moral di dunia gital saat ini.

Akhir-akhir ini, di berbagai platform media sosial seperti facebook, instagram, WA dan sebagainya ramai orang membagikan video-video berdurasi pendek maupun foto yang seharusnya tidak pantas untuk di publikasikan. Dari sekian banyaknya konten yang beredar, salah satu unggahan di platform (facebook) yang sangat tidak wajar adalah unggahan peristiwa banjir bandang di Mauponggo. Banjir Bandang di Mauponggo tidak hanya meninggalkan bekas keganasan alam. Tetapi jauh di lubuk hati para korban dan saksi, juga masih tersisa rasa sakit dan luka dan duka untuk kehilangan baik harta maupun kerabat yang mereka alami. Kejadian ini tentu meninggalkan beban trauma yang membuat mereka bahkan tidak berani untuk membayangkan dan berpikir kembali apa yang sudah terjadi.

Banyak orang maupun kelompok yang sudah dengan caranya masing-masing memberikan bantuan juga melakukan segala sesuatu untuk membantu, juga untuk sekedar menunjukkan rasa empati. Karena duka mereka adalah duka kita semua. Banyak yang turun langsung mencari para korban, mengumpulkan dana dari jauh dan mengirimkan ke sana, dan ada juga yang mungkin hanya mampu menyelipkan harapan dan permohonan dalam doa yang hanya Tuhan yang mendengarkan.

Ada juga kelompok kategori manusia yang juga merasa menunjukkan empati, tetapi batasannya tipis dengan exploitasi terhadap para korban. Para oknum pengguna FB pro yang merasa diri konten kreator. Mereka memberikan empati dengan cara membagikan setiap update tentang kejadian di sana, bukan soal informasi terkini, tetapi malah foto dan video para korban dan keluarganya, lalu mendramatisir bencana dengan menambahkan lagu-lagu sedih atau narasi-narasi yang sebenarnya bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan hanya menambah luka dan trauma di kemudian hari.

II.                Pembahasan

I.                   Kebajikan Intelektual vs Konten kreator Primitif

Kualiatas intelektual seseorang mencerminkan keutamaan diri dalam berinteraksi dengan orang lain.[3] Orang yang memiliki kebajikan intelektual tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kemampuan membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang pantas dan tidak pantas. Di era revolusi teknologi seperti sekarang, kebajikan ini menjadi fondasi penting agar manusia tidak kehilangan arah. Kebajiakn intelektual menjadi salah satu alternatif yang menjadi fondasi pencapaian kebijakasanaan dalam mengahadapi persoalan berkenaan dengan revolusi teknolgi saat ini.[4]

Kebajikan ini mestinya tertular luas dalam masyarkat. Ini sebagai bentuk siaga untuk menghadapi bentuk negatif dari perubahan tersebut. Kebajikan intelektual merupakan bentuk keutamaan yang lahir dari kemampuan berpikir jernih, berperilaku etis, dan bertindak berdasarkan kesadaran moral.

Teknologi adalah hasil dari kecerdasan manusia tetapi tanpa kebijaksanaan, teknologi dapat menjadi pedang bermata dua. Ia bisa membangun, tetapi juga bisa menghancurkan. Kita sadari bahwa kita hidup di zaman di mana like dan komentar seringkali jadi ukuran harga diri. Karena itu banyak orang bekerja bukan karena ingin berkembang tetapi ingin dilihat. Di tangan orang yang berakal budi, teknologi melahirkan kemajuan. Namun di tangan mereka yang haus sensasi dan miskin empati, teknologi justru menjadi alat eksploitasi terhadap sesama manusia.

Sayangnya, revolusi digital justru menciptakan budaya baru, budaya pementasan diri. Segala hal seolah harus direkam dan dibagikan, bahkan duka dan kematian sekalipun. Dunia maya menjadi arena kompetisi popularitas, di mana nilai moral sering dikorbankan demi angka penonton dan tanda suka. Inilah paradoks besar era digital ketika kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan moral manusia.

Kebajikan intelektual menuntun kita untuk berpikir sebelum bertindak, termasuk dalam hal memproduksi dan menyebarkan konten digital. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa direkam harus dipublikasikan, dan tidak semua peristiwa layak dijadikan bahan tontonan. Orang yang berakal budi akan memahami bahwa di balik setiap gambar dan video, ada realitas kehidupan manusia lain yang memiliki hak atas privasi, martabat, dan rasa hormat.

II.                Kemajuan Teknologi Tanpa Kendali Moral: Tantangan Zaman

Realitas kehidupan manusia saat ini tidak dapat dipisahkan dari keberadaan teknologi.[5]  Kekuatan dan magnetik dari revolusi teknolgi tidak dapat dilenyapkan lagi. Kekuatanya tak terbendungkan. Kemajuan teknologi di era kontemporer memiliki dampak yang signifikan, dengan berbagai penemuan dan pembaruan baru yang terus dilakukan setiap hari. Penemuan dan pengunaan alat-alat teknologi merupakan sebuah kemajuan berharga yang di capai manusia dalam peradabapannya.[6] Namun, Ketika kemajuan ini tidak diimbangi dengan dengan pengendalian moral, keberadaan teknologi justru dapat merusak moral para pengguannya.

Manusia sejatinya ialah makhluk individu dan makhluk sosial. Dari saat ia lahir sampai saat ia meninggal, interaksi seseorang manusia dengan orang lain selalu membangun sifat sosialnya.[7] Keberadaan manusia saat ini telah mengalami sejumalah perkembangan dan modifikasih. Fenomena yang menggambarkan berbagai transformasi dan kemajuan, seperti ilmu pengetahuan, teknolgi yang maju, perubahan iklim global dan pertumbuhan penduduk.[8] Fenomena ini menunjukan bahwa evolusi dunia teknologi modern menjadikan manusia sebagai salah satu tujuannya dan bahkan seluruh keperibadian manusia diubah menjadi objek dari perubahan itu sendiri.[9]

III.             Penutup

Banjir Bandang Mauponggo, yang bagi mereka di sana adalah sebuah bencana, diubah menjadi lahan basah untuk mencari view, like, dan meningkatkan engagment[10] antara kreator dan followersnya. Duka bagi mereka, rezeki bagi saya. Demikian mungkin konsep berpikir mereka. Mereka adalah kelompok orang yang menggunakan barang paling canggih dengan cara paling primitif.

Sebagai mahkluk berakal hemat saya ada satu dua halyang perlu diperhatikan dalam berinteraksi di dunia maya dan menjadi hal yang perlu di perhatikan serta menjadi catatan  untuk kita pikirkan sebelum mengupload konten-konten kita.

Pertama, mari kita jadikan media sosial sebagai ruang berbagi empati, bukan panggung exploitasi atas penderitaan dan duka orang lain. Pikirkan bahwa luka dan duka korban adalah hal yang nyata dan benar-benar dirasakan oleh orang yang mengalaminya, itu bukan bahan yang layak dijadikan tontonan untuk meningkatkan popularitas. Kedua, kalau mau bantu dan berempaty, lakukan dengan cara yang benar: Berdoa, berdonasi, atau membagikan informasi-informasi resmi dan aktual tanpa menambah trauma dan duka. Pikirkan bahwa menghormati privasi dan perasaan korban jauh lebih mulia dari sekedar mencari like dan view. Terakhir, seperti yang sudah banyak orang teriakkan. Stop jadikan kesedihan orang lain sebagai lahan konten, karena kemanusiaan lebih berharga daripada popularitas semu.

Kalau kita memiliki akun Facebook, Tiktok, Instagram, dan segala macam media sosial lain dan masih ada gambar atau video banjir, orang meninggal, korban kecelakaan, narasi-narasi yang mendramatisir bencana dan duka, segala macam jenis konten yang mengeksploitasi orang lain dan menimbulkan trauma, berarti kita sudah yang saya maksud sebagai konten kreator primitif tu. Hapus sudah!



[1] https://share.google/MIB7o1MYXGvIXTk7C di akses 10 November 2025

[2] https://share.google/ZKFNnm17Wy%cpzg43, di akses pada 10 November 2025

[3] Florida Sasi, Mengendus Kebenaran Meraih Kebijaksanaan, (Maumere: Ledalero. 2019), hlm. 85

[4] Ibid, hlm. 89

[5] Agusto Ameida da Silva, Filsafat teknologi, (Banyumas: Amerta Media) 2023, hlm. 85

[6] Isodorus Lilidjawa, Perempuan Media dan Politik, (Maumere: Ledalero, 2010), hlm. 111

[7] Ibid, Agusto Ameida da Silva, hlm. 3

[8] Ibid, hlm. 1

[9] Ibid

[10] Engagment merupakan interaksi atau keterlibatan antara merek/individu dengan audiensnya, yang biasanya diukur melalui respon seperti like, komentar di berbagai konten di media sosial.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kebajikan Intelektual: Fondasi Kebijaksanaan di Era Konten kreator Primitif

No comments:

Post a Comment

Trending Now

Iklan