Iklan

Puisi-Puisi Ryan Arnold

Wednesday, 14 January 2026 | January 14, 2026 WIB Last Updated 2026-01-15T08:29:46Z

 


Senja di Kajuwulu

Di bibir pantai Kajuwulu,
matahari tergelincir perlahan
seperti doa yang dituang ke laut,
membasuh luka hari dengan cahaya merah jingga.

Awan terburai jadi selendang emas,
menyelimuti punggung bukit yang diam,
sementara ombak mendendangkan kidung,
tentang pulang, tentang rindu, tentang diam.

Di sana, cahaya bukan sekadar pendar,
ia adalah surat rahasia langit
yang dibacakan di cakrawala,
meninggalkan aksara sunyi di wajah air.

Senja di Kajuwulu—
seperti hati yang lama menyimpan nama,
lalu melepaskannya
dalam bisikan angin senja.

Apakah kau tahu?
Senja ini mengajari jiwa
bahwa setiap perpisahan
adalah indah bila dikenang,
dan setiap keindahan
selalu lahir dari kehilangan.

(2026)

Aku, dan Kau di Ledalero

Aku, dan Kau, di Ledalero—
tempat doa bersemi dari tanah sunyi,
tempat rindu berlabuh di altar sederhana,
tempat cinta bersujud
tanpa berani menyebut nama.

Kau—
dengan jubah doa yang menutup langkahmu,
mata teduh yang menyimpan cahaya tabernakel,
senyum yang tak sengaja mengajariku
arti pasrah kepada Tuhan.

Aku—
hanya jiwa kecil di sudut kapela,
menggenggam Rosario seakan menggenggammu,
menyulam doa di tiap butirnya
agar Tuhan sendiri yang menjagamu.

Ledalero pun jadi saksi,
bahwa cinta bisa berdiam
tanpa harus memiliki,
bahwa rindu bisa bertumbuh
tanpa harus terucap.

Aku, dan Kau, di Ledalero—
seperti dua lilin kecil di depan altar:
tak pernah bersentuhan,
namun sama-sama terbakar
dalam terang kasih-Nya.

( 2026)

 Helena & Doa Angelus

Pada senja yang perlahan runtuh,
lonceng berdentang dari menara biara,
membelah sunyi menjadi tiga salam
yang naik ke langit bersama cahaya jingga.

Helena berdiri di ambang doa,
matanya teduh seperti jendela kapela,
tangannya terkatup rapat
seakan ingin merangkul seluruh dunia.

“Ave Maria, penuh rahmat…”
suara itu jatuh dari bibirnya
laksana embun pada daun kering,
menyegarkan hati yang nyaris layu.

Angelus bukan sekadar kidung,
ia adalah napas cinta yang sederhana,
dan di wajah Helena—
doa itu menjelma cahaya,
menyelubungi tubuhnya dengan damai
seperti selendang perawan suci.

Senja pun berhenti sejenak,
mendengar rintihan halus dari bumi,
sementara burung-burung kembali ke sarang
membawa gema doa itu
ke segala penjuru langit.

Helena,
namamu abadi dalam Angelus,
seperti salam malaikat
yang tak pernah lelah diulang
hingga kasih menjadi daging
dan cahaya menjadi manusia

(2026)

 Doa Seorang Pelacur

Tuhan,
di tikungan malam yang muram,
aku hanyalah tubuh yang disewakan,
suara yang diperdagangkan,
air mata yang tak sempat ditimbang.

Aku berjalan di lorong-lorong bisu,
dengan sepatu yang aus oleh langkah asing,
dan bibir yang dicuri tawa palsu.
Namun, dalam remuk sukmaku,
ada bisikan kecil yang tak pernah mati:
bahwa Engkau masih mengintip
dari celah hatiku yang koyak.

Tuhan,
aku bukan Maria yang bersih,
aku hanyalah Magdalena yang letih.
Tanganku penuh noda,
tapi masih meraba cahaya.
Kakiku terbenam dalam lumpur,
namun masih mencari altar-Mu.

Apakah Engkau masih sudi
menyebut namaku dalam daftar kasih-Mu?
Apakah darah-Mu yang kudus
cukup untuk mencuci aroma dosa di rambutku?
Apakah salib-Mu masih sanggup
menyembunyikan aku dalam sayap pengampunan?

Malam-malamku penuh tawar-menawar,
namun doaku selalu tunggal:
jangan biarkan aku hilang, Tuhan,
jangan biarkan aku hilang.

Sebab di balik tubuh yang dipeluk banyak tangan,
jiwaku hanya ingin dipeluk satu tangan—
tangan-Mu.

(2026)

 Pesan Terakhir Mama Sebelum Meninggal

Hari itu langit tampak murung,
awan bergelayut seperti tahu sesuatu
yang sebentar lagi akan hilang.
Aku duduk di samping ranjang,
menatap wajah Mama yang pucat,
napasnya naik turun pelan,
seakan berjuang melawan waktu.

“Mama sakit, Nak…”
bisiknya lirih,
matanya redup,
tapi masih ada cinta
yang menyala di sana.

Aku teringat masa kecilku—
saat Mama memelukku kala aku jatuh,
saat ia memasak bubur sederhana
dengan kasih yang tak pernah habis.
Dan kini, tubuh itu rapuh,
seperti daun kering menunggu jatuh.

Tiba-tiba Mama meraih tanganku.
“Dengar, Nak…”
suaranya pecah, namun tegas.
“Kalau Mama pergi nanti,
jangan biarkan air mata menenggelamkanmu.
Mama ingin kau kuat,
kau harus jadi sandaran untuk adik-adikmu.”

Aku menggenggam tangannya erat,
berharap hangatnya bertahan lebih lama,
berharap kata-katanya jangan jadi perpisahan.
Tapi Mama tersenyum,
senyum yang selalu menenangkan
seperti doa di malam hari.

“Jangan lupakan Tuhan,
karena hanya Dia yang tak akan meninggalkanmu.
Dan ingatlah, kasih itu warisan Mama,
bukan emas, bukan harta,
tapi cinta yang harus kau jaga
sampai akhir hidupmu.”

Aku menangis, air mata jatuh tanpa izin.
“Ma… jangan pergi… aku masih butuh Mama.”

Mama menggeleng pelan,
“Anakku, kita semua hanya singgah…
rumah kita yang sejati ada di surga.”

Lalu napasnya semakin pendek,
matanya mulai menutup,
dan dengan sisa kekuatan terakhir
ia berbisik di telingaku:
“Doa Mama akan selalu bersamamu…”

Setelah itu, senyap.
Mesin berhenti berbunyi,
tangan Mama terkulai dingin,
sementara senyumnya membeku
seperti damai yang tak terganggu lagi.

Aku terdiam,
seakan separuh hidupku ikut pergi.
Namun pesan terakhir itu
menjadi cahaya yang menuntunku,
setiap kali aku rapuh,
setiap kali aku merasa sendirian,
aku tahu:
Mama masih berdoa untukku
di tempat yang lebih abadi.

(2026)

 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puisi-Puisi Ryan Arnold

No comments:

Post a Comment

Trending Now

Iklan