Iklan

Catatan Refleksi: Uang Berubah Menjadi “Tuhan” Baru

Tuesday, 19 May 2026 | May 19, 2026 WIB Last Updated 2026-05-20T02:49:19Z

 


Oleh : Frederikus Bulman

Saya menuliskan ini bukan sekadar sebagai pengamat, melainkan sebagai orang yang pernah merasakan sendiri bagaimana perjudian daring perlahan-lahan mengubah cara pandang saya terhadap uang, hingga akhirnya saya tanpa sadar menjadikannya sebagai “Tuhan” baru dalam hidup saya.

Awalnya, saya hanya merasa ini sekadar cara mudah menambah penghasilan. Terpikat oleh janji uang yang bisa didapat dalam sekejap, saya mulai terbiasa menaruh harapan besar pada kemenangan yang terus saya kejar. Lama-kelamaan, uang tidak lagi berfungsi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bagi saya saat itu, uanglah yang menjadi penilai harga diri, penentu kebahagiaan, dan satu satunya tujuan yang harus dicapai dengan cara apa pun. Saya mulai menganggap uang seolah-olah memiliki kekuatan mahakuasa - Dialah yang saya “sembah”, Dialah yang saya tanyakan nasib saya setiap kali menekan tombol taruhan.

 Dari pengalaman itu, saya sadar betul: ketika uang sudah diangkat ke posisi tertinggi, segalanya berubah. Saya menjadi orang yang tak pernah merasa puas: meski sudah menang, hati tetap gelisah karena menginginkan lebih. Saya menjadi buta terhadap nilai‑nilai kejujuran dan moral - segala cara tampak dibenarkan asalkan bisa mendapatkan uang lebih banyak.

Saya pun perlahan berubah menjadi hamba uang: rela mengorbankan waktu tidur, mengabaikan keluarga, melupakan tanggung jawab, hingga menumpuk utang, semata‑mata demi menuruti apa yang saya anggap sebagai “kehendak” uang tersebut. Saya merasa seolah‑olah tidak berdaya melawan kekuatan “dewa uang” itu.

Namun kenyataan pahit akhirnya menyadarkan saya: “Tuhan” yang saya puja itu ternyata tidak pernah memberi keselamatan atau kebahagiaan sejati. Ia justru membawa kehancuran: kecemasan yang tak henti‑henti, rasa bersalah yang mendalam, hingga nyaris kehilangan arah hidup.

Dari perjalanan kelam itu, saya belajar satu kebenaran yang paling mendasar: uang hanyalah benda mati. Ia diciptakan untuk dikuasai manusia, bukan untuk menguasai manusia. Ia adalah sarana, bukan tujuan hidup.

Pengalaman pribadi ini menjadi bukti nyata bahwa menjadikan uang sebagai “Tuhan” baru lewat judi daring adalah penyimpangan terbesar yang bisa dialami manusia. Kita diciptakan untuk memuliakan Pencipta, bukan menundukkan kepala di hadapan benda materi.

Kini saya telah bangkit dan menyadari: kebebasan yang sesungguhnya tercapai ketika saya mengembalikan uang ke tempat yang semestinya — sebagai alat, bukan tuan — dan mengembalikan posisi yang sejatinya layak dipuja dan ditaati.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Catatan Refleksi: Uang Berubah Menjadi “Tuhan” Baru

No comments:

Post a Comment

Trending Now

Iklan