by. Marsela Tesalonika Durung,
Melania Jesika Tangkal, Lugardis Vedrita Jayitin.
( student of English Languange Study Program, Saint
Paulus Ruteng)
Banjir,
cuaca ekstrem, krisis air bersih, dan suhu yang semakin panas bukan lagi
sekadar bencana alam biasa. Semua itu adalah tanda bahwa ekosistem dunia sedang
mengalami kerusakan serius akibat aktivitas manusia. Ironisnya, ketika alam
rusak, manusia justru menjadi pihak pertama yang menerima dampaknya.
Ekosistem
bukan sekadar latar belakang kehidupan ia adalah mesin penyangga kehidupan itu
sendiri. Hutan menyerap karbon, laut mengatur iklim, dan tanah yang sehat
memproduksi pangan. Menurut World Economic Forum (2023), lebih dari separuh PDB
global sekitar 44 triliun dolar AS bergantung pada alam dan jasa ekosistem.
Ketika fondasi ini goyah, seluruh sistem ikut runtuh: pangan, air bersih,
kesehatan, hingga stabilitas ekonomi.
Indonesia
adalah salah satu negara yang merasakan dampak kerusakan ekosistem paling
nyata. Deforestasi untuk perkebunan kelapa sawit dan tambang telah menyusutkan
hutan Kalimantan dan Sumatera secara drastis
dua kawasan yang menyimpan sebagian besar keanekaragaman hayati dunia.
Data
Global Forest Watch mencatat Indonesia kehilangan 9,75 juta hektar hutan primer
antara 2002 hingga 2022. Di laut, polusi plastik dan penangkapan ikan berlebih
mengancam terumbu karang yang menjadi rumah bagi 25 persen spesies laut global.
Limbah plastik sendiri telah membentuk akumulasi raksasa di lautan yang terus
merusak rantai makanan.
Dampaknya
sudah terasa. Krisis air bersih menimpa jutaan warga di berbagai daerah,
termasuk di NTT dan sebagian Jawa. Bencana banjir dan longsor semakin sering
terjadi seiring hilangnya tutupan hutan yang berfungsi sebagai penyerap air.
Penurunan produktivitas pertanian akibat degradasi lahan mengancam ketahanan
pangan sementara IPCC memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat memangkas
hasil panen global hingga 25 persen pada 2050. Munculnya penyakit zoonosis yang berpindah dari satwa liar ke
manusia juga meningkat seiring hilangnya
habitat alami.
Sejumlah
langkah nyata sudah mulai diambil. Indonesia telah berkomitmen mengurangi
deforestasi melalui kebijakan moratorium hutan dan program perhutanan sosial.
Di tingkat global, negara-negara mengembangkan energi terbarukan sebagai
alternatif bahan bakar fosil, sementara program penanaman pohon skala besar
sedang digalakkan di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Masyarakat sipil dan
komunitas adat memainkan peran kunci terbukti, kawasan yang dikelola masyarakat
lokal memiliki tingkat deforestasi jauh lebih rendah dibanding kawasan konsesi
korporasi.
Ekosistem
yang rusak tidak menunggu kesepakatan diplomatik untuk berhenti memburuk.
Laporan IPCC menegaskan bahwa dunia hanya punya waktu hingga 2030 untuk
memotong emisi secara signifikan demi mencegah pemanasan melampaui 1,5 derajat
Celcius ambang batas di mana dampak ekologis menjadi tidak terkendali.
Jika
manusia terus memperlakukan alam sebagai objek eksploitasi tanpa batas, maka
krisis ekologis bukan lagi kemungkinan, melainkan kenyataan yang akan
diwariskan kepada generasi berikutnya. Pilihan ada di tangan kita: bertindak
sekarang dengan kebijakan yang tegas dan perubahan perilaku nyata, atau
menanggung konsekuensi dari kelambanan yang tidak bisa diputar ulang.

No comments:
Post a Comment