Iklan

Ekosistem Runtuh, Krisis Kehidupan Dimulai

Monday, 25 May 2026 | May 25, 2026 WIB Last Updated 2026-05-25T09:52:41Z

 


by. Marsela Tesalonika Durung, Melania Jesika Tangkal, Lugardis Vedrita Jayitin.

( student  of English Languange Study Program, Saint Paulus Ruteng)

Banjir, cuaca ekstrem, krisis air bersih, dan suhu yang semakin panas bukan lagi sekadar bencana alam biasa. Semua itu adalah tanda bahwa ekosistem dunia sedang mengalami kerusakan serius akibat aktivitas manusia. Ironisnya, ketika alam rusak, manusia justru menjadi pihak pertama yang menerima dampaknya.

Ekosistem bukan sekadar latar belakang kehidupan ia adalah mesin penyangga kehidupan itu sendiri. Hutan menyerap karbon, laut mengatur iklim, dan tanah yang sehat memproduksi pangan. Menurut World Economic Forum (2023), lebih dari separuh PDB global sekitar 44 triliun dolar AS bergantung pada alam dan jasa ekosistem. Ketika fondasi ini goyah, seluruh sistem ikut runtuh: pangan, air bersih, kesehatan, hingga stabilitas ekonomi.

Indonesia adalah salah satu negara yang merasakan dampak kerusakan ekosistem paling nyata. Deforestasi untuk perkebunan kelapa sawit dan tambang telah menyusutkan hutan Kalimantan dan Sumatera secara drastis  dua kawasan yang menyimpan sebagian besar keanekaragaman hayati dunia.

Data Global Forest Watch mencatat Indonesia kehilangan 9,75 juta hektar hutan primer antara 2002 hingga 2022. Di laut, polusi plastik dan penangkapan ikan berlebih mengancam terumbu karang yang menjadi rumah bagi 25 persen spesies laut global. Limbah plastik sendiri telah membentuk akumulasi raksasa di lautan yang terus merusak rantai makanan.

Dampaknya sudah terasa. Krisis air bersih menimpa jutaan warga di berbagai daerah, termasuk di NTT dan sebagian Jawa. Bencana banjir dan longsor semakin sering terjadi seiring hilangnya tutupan hutan yang berfungsi sebagai penyerap air. Penurunan produktivitas pertanian akibat degradasi lahan mengancam ketahanan pangan sementara IPCC memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat memangkas hasil panen global hingga 25 persen pada 2050. Munculnya penyakit zoonosis  yang berpindah dari satwa liar ke manusia  juga meningkat seiring hilangnya habitat alami.

Sejumlah langkah nyata sudah mulai diambil. Indonesia telah berkomitmen mengurangi deforestasi melalui kebijakan moratorium hutan dan program perhutanan sosial. Di tingkat global, negara-negara mengembangkan energi terbarukan sebagai alternatif bahan bakar fosil, sementara program penanaman pohon skala besar sedang digalakkan di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Masyarakat sipil dan komunitas adat memainkan peran kunci terbukti, kawasan yang dikelola masyarakat lokal memiliki tingkat deforestasi jauh lebih rendah dibanding kawasan konsesi korporasi.

Ekosistem yang rusak tidak menunggu kesepakatan diplomatik untuk berhenti memburuk. Laporan IPCC menegaskan bahwa dunia hanya punya waktu hingga 2030 untuk memotong emisi secara signifikan demi mencegah pemanasan melampaui 1,5 derajat Celcius ambang batas di mana dampak ekologis menjadi tidak terkendali.

Jika manusia terus memperlakukan alam sebagai objek eksploitasi tanpa batas, maka krisis ekologis bukan lagi kemungkinan, melainkan kenyataan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pilihan ada di tangan kita: bertindak sekarang dengan kebijakan yang tegas dan perubahan perilaku nyata, atau menanggung konsekuensi dari kelambanan yang tidak bisa diputar ulang.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ekosistem Runtuh, Krisis Kehidupan Dimulai

No comments:

Post a Comment

Trending Now

Iklan