Oleh: Giselle Heavenly
Pendidikan melampaui batas ruang kelas
“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” (Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat anda gunakan untuk mengubah dunia).
— Nelson Mandela
Kutipan dari mantan presiden Afrika
Selatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar belajar di dalam
kelas atau memahami materi pembelajaran. Dengan pendidikan, seseorang tidak
hanya belajar untuk memahami dunia, tetapi juga untuk memahami dirinya sendiri,
serta lingkungannya.
Pendidikan juga memiliki peran
penting dalam membentuk karakter, cara berpikir, sikap, serta cara kita
berinteraksi dengan orang lain.
Selain pendidikan formal di sekolah,
proses pembentukan sikap dan cara berpikir juga dipengaruhi oleh lingkungan
keluarga dan masyarakat. Nilai-nilai seperti sopan santun, empati, serta cara
menyampaikan pendapat sering kali pertama kali dipelajari dari lingkungan
terdekat. Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya terbatas pada ruang kelas,
tetapi juga berlangsung dalam kehidupan sehari-hari yang sering kita temui.
Kebebasan berpendapat: Hak yang
sering disalahartikan
Salah satu bentuk nyata dari
pengaruh pendidikan dapat dilihat dalam kebebasan berpendapat. Kebebasan
berpendapat merupakan hak setiap individu untuk menyampaikan pikiran, pendapat,
dan perasaan sesuai dengan hati nuraninya. Hak ini sangat penting karena memungkinkan
setiap individu untuk didengar dan terlibat aktif dalam berbagai hal.
Oleh karena itu, hal tersebut juga
telah diatur dalam Undang-Undang sebagaimana mestinya yang berada pada Pasal
28E Ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “Setiap orang berhak atas
kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.” Namun kebebasan
ini bukan berarti seseorang dapat berbicara tanpa batas atau tanpa
mempertimbangkan dampaknya.
Di era sekarang, kebebasan
berpendapat semakin sering dilakukan, terutama melalui media sosial.
Perkembangan teknologi mempengaruhi masyarakat untuk memiliki kesempatan
berbicara di depan publik. Sayangnya, tidak semua orang dapat menggunakan
kesempatan yang diberikan tersebut dengan bijak.
Banyak orang yang malah menggunakan
kesempatan tersebut tanpa berpikir panjang sehingga mengeluarkan kata-kata yang
bahkan tidak pantas, informasi yang belum tentu benar, dan berpotensi
menimbulkan keributan. Kemudahan seseorang dalam menyampaikan pendapat ini
memiliki tantangan tersendiri, era digital membuat semakin banyak orang merasa
bebas berkata apa saja dan kepada siapa saja tanpa memikirkan dampak jangka
panjangnya.
Kebebasan beretika dan kebebasan
tanpa batas
Oleh karena itu, kebebasan
berpendapat bukan sekadar berbicara bebas. Ada perbedaan diantara berbicara
secara bertanggung jawab dengan sekadar berbicara bebas tanpa arah. Dan
disinilah pendidikan berperan penting dalam menentukan dan membentuk etika
seseorang saat menyampaikan pendapat.
Bebas berbicara berarti mampu menyampaikan
pendapat dengan jelas, sopan, dan dapat menghargai pendapat orang lain.
Seseorang yang paham tentang kebebasan berpendapat akan berpikir sebelum
berbicara dan mempertimbangkan konsekuensi serta dampak atas pendapatnya. Ia
juga tidak hanya mau didengar, tetapi mau untuk mendengar dan menerima segala
perbedaan pendapat dari orang lain.
Sedangkan, seseorang yang hanya
berbicara bebas hanya berpendapat tanpa tanggung jawab dan tanpa memikirkan
orang lain. Dalam banyak kasus berbicara bebas tentu dapat menyebabkan konflik,
kesalahpahaman, dan permasalahan yang berpotensi untuk merugikan diri sendiri
serta orang lain.
Pengaruh nyata dari pendidikan dalam
kehidupan
Maka dari itu, pendidikan memiliki
peran yang sangat penting dalam kebebasan berpendapat. Melalui pendidikan,
seseorang diajarkan untuk berpikir kritis, kemampuan dalam berkomunikasi, dan
memahami dari berbagai sudut pandang yang ada. Selain itu pendidikan
membantu seseorang untuk mengetahui
batasan dalam berpendapat, cara menghormati orang lain, dan tanggung jawab
dengan tidak menyalahgunakan kebebasan.
Contoh nyata yang bisa kita lihat
adalah melalui media sosial. Ada orang yang menyampaikan pemikiran dengan baik,
bijak, sopan, dan beretika sehingga mudah untuk diterima oleh orang lain. Ada juga
orang yang menyampaikan pemikirannya dengan kata-kata kasar ataupun kata-kata
yang menyudutkan pihak lain. Perbedaan dari hal ini menunjukkan bahwa
pendidikan sangat berpengaruh terhadap cara seseorang dalam berpendapat.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini
juga dapat kita lihat di lingkungan sekolah. Siswa-siswi yang sudah terbiasa
dididik untuk menghargai orang lain akan cenderung lebih mudah untuk
berdiskusi, berbicara dengan orang lain, dan paham mengapa kita tidak boleh
memaksakan kehendak kita kepada orang lain.
Sebaliknya, siswa-siswi yang kurang pengetahuan akan kebebasan
berpendapat, etika, dan cara menghargai orang lain akan cenderung lebih mudah
untuk terlibat dalam konflik.
Kunci kebebasan yang bertanggung
jawab
Oleh karena itu, pendidikan di era
modern tidak hanya berpaku pada pendidikan secara akademis, melainkan juga
pendidikan karakter dan literasi digital bagi siswa-siswinya. Literasi dan
kepekaan untuk menyaring dan membuktikan kebenaran informasi ini sangat penting
pada zaman ini agar seseorang tidak mudah terpengaruh atau menyebarkan
informasi yang salah.
Dengan demikian, pendidikan menjadi
dasar dan kunci utama agar kebebasan tersebut dapat memberikan dampak yang
positif, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama sehingga kebebasan
berpendapat bukan hanya tentang berani berbicara, tetapi juga tentang bagaimana
seseorang menggunakan kebebasan tersebut dengan penuh tanggung jawab.
Maka, pertanyaannya bukan lagi
“Apakah kita bebas untuk berbicara?”, melainkan “Sudahkah kita cukup terdidik
dan tahu apa yang seharusnya kita ucapkan?”.
.png)
No comments:
Post a Comment