Iklan

Sekadar Bebas Berbicara atau Berbicara Bebas dengan Beretika?

Tuesday, 19 May 2026 | May 19, 2026 WIB Last Updated 2026-05-20T04:05:28Z

 

(Siswa kelas IX SMP Katolik Abdi Siswa II, Jakarta Barat)

Oleh: Giselle Heavenly

Pendidikan melampaui batas ruang kelas

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” (Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat anda gunakan untuk mengubah dunia).

Nelson Mandela

Kutipan dari mantan presiden Afrika Selatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar belajar di dalam kelas atau memahami materi pembelajaran. Dengan pendidikan, seseorang tidak hanya belajar untuk memahami dunia, tetapi juga untuk memahami dirinya sendiri, serta lingkungannya.

Pendidikan juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter, cara berpikir, sikap, serta cara kita berinteraksi dengan orang lain.

Selain pendidikan formal di sekolah, proses pembentukan sikap dan cara berpikir juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan masyarakat. Nilai-nilai seperti sopan santun, empati, serta cara menyampaikan pendapat sering kali pertama kali dipelajari dari lingkungan terdekat. Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi juga berlangsung dalam kehidupan sehari-hari yang sering kita temui.

Kebebasan berpendapat: Hak yang sering disalahartikan

Salah satu bentuk nyata dari pengaruh pendidikan dapat dilihat dalam kebebasan berpendapat. Kebebasan berpendapat merupakan hak setiap individu untuk menyampaikan pikiran, pendapat, dan perasaan sesuai dengan hati nuraninya. Hak ini sangat penting karena memungkinkan setiap individu untuk didengar dan terlibat aktif dalam berbagai hal.

Oleh karena itu, hal tersebut juga telah diatur dalam Undang-Undang sebagaimana mestinya yang berada pada Pasal 28E Ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.” Namun kebebasan ini bukan berarti seseorang dapat berbicara tanpa batas atau tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Di era sekarang, kebebasan berpendapat semakin sering dilakukan, terutama melalui media sosial. Perkembangan teknologi mempengaruhi masyarakat untuk memiliki kesempatan berbicara di depan publik. Sayangnya, tidak semua orang dapat menggunakan kesempatan yang diberikan tersebut dengan bijak.

Banyak orang yang malah menggunakan kesempatan tersebut tanpa berpikir panjang sehingga mengeluarkan kata-kata yang bahkan tidak pantas, informasi yang belum tentu benar, dan berpotensi menimbulkan keributan. Kemudahan seseorang dalam menyampaikan pendapat ini memiliki tantangan tersendiri, era digital membuat semakin banyak orang merasa bebas berkata apa saja dan kepada siapa saja tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya.

Kebebasan beretika dan kebebasan tanpa batas

Oleh karena itu, kebebasan berpendapat bukan sekadar berbicara bebas. Ada perbedaan diantara berbicara secara bertanggung jawab dengan sekadar berbicara bebas tanpa arah. Dan disinilah pendidikan berperan penting dalam menentukan dan membentuk etika seseorang saat menyampaikan pendapat.

Bebas berbicara berarti mampu menyampaikan pendapat dengan jelas, sopan, dan dapat menghargai pendapat orang lain. Seseorang yang paham tentang kebebasan berpendapat akan berpikir sebelum berbicara dan mempertimbangkan konsekuensi serta dampak atas pendapatnya. Ia juga tidak hanya mau didengar, tetapi mau untuk mendengar dan menerima segala perbedaan pendapat dari orang lain.

Sedangkan, seseorang yang hanya berbicara bebas hanya berpendapat tanpa tanggung jawab dan tanpa memikirkan orang lain. Dalam banyak kasus berbicara bebas tentu dapat menyebabkan konflik, kesalahpahaman, dan permasalahan yang berpotensi untuk merugikan diri sendiri serta orang lain.

Pengaruh nyata dari pendidikan dalam kehidupan

Maka dari itu, pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam kebebasan berpendapat. Melalui pendidikan, seseorang diajarkan untuk berpikir kritis, kemampuan dalam berkomunikasi, dan memahami dari berbagai sudut pandang yang ada. Selain itu pendidikan membantu  seseorang untuk mengetahui batasan dalam berpendapat, cara menghormati orang lain, dan tanggung jawab dengan tidak menyalahgunakan kebebasan.

Contoh nyata yang bisa kita lihat adalah melalui media sosial. Ada orang yang menyampaikan pemikiran dengan baik, bijak, sopan, dan beretika sehingga mudah untuk diterima oleh orang lain. Ada juga orang yang menyampaikan pemikirannya dengan kata-kata kasar ataupun kata-kata yang menyudutkan pihak lain. Perbedaan dari hal ini menunjukkan bahwa pendidikan sangat berpengaruh terhadap cara seseorang dalam berpendapat.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini juga dapat kita lihat di lingkungan sekolah. Siswa-siswi yang sudah terbiasa dididik untuk menghargai orang lain akan cenderung lebih mudah untuk berdiskusi, berbicara dengan orang lain, dan paham mengapa kita tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada orang lain.  Sebaliknya, siswa-siswi yang kurang pengetahuan akan kebebasan berpendapat, etika, dan cara menghargai orang lain akan cenderung lebih mudah untuk terlibat dalam konflik.

Kunci kebebasan yang bertanggung jawab

Oleh karena itu, pendidikan di era modern tidak hanya berpaku pada pendidikan secara akademis, melainkan juga pendidikan karakter dan literasi digital bagi siswa-siswinya. Literasi dan kepekaan untuk menyaring dan membuktikan kebenaran informasi ini sangat penting pada zaman ini agar seseorang tidak mudah terpengaruh atau menyebarkan informasi yang salah.

Dengan demikian, pendidikan menjadi dasar dan kunci utama agar kebebasan tersebut dapat memberikan dampak yang positif, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama sehingga kebebasan berpendapat bukan hanya tentang berani berbicara, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menggunakan kebebasan tersebut dengan penuh tanggung jawab.

Maka, pertanyaannya bukan lagi “Apakah kita bebas untuk berbicara?”, melainkan “Sudahkah kita cukup terdidik dan tahu apa yang seharusnya kita ucapkan?”. 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sekadar Bebas Berbicara atau Berbicara Bebas dengan Beretika?

No comments:

Post a Comment

Trending Now

Iklan