Iklan

Spiral Of Silence dan Polarisasi Politik Di Media Sosial

Monday, 25 May 2026 | May 25, 2026 WIB Last Updated 2026-05-25T09:49:14Z

 


Oleh: Kayetanus Andriano Ngeda Pesa

Tian Ngeda, merupakan mahasiswa tingkat III program studi Filsafat di IFTK Ledalero. Beliau memiliki perhatian pada isu komunikasi sosial dan polarisasi politik di tengah masyarakat modern. Melalui tulisan-tulisan opini, beliau berusaha melihat bagaimana media dan dinamika komunikasi membentuk cara masyarakat berpikir, berdialog, bahkan terpecah dalam perbedaaan pandangan politik. Selain aktif menulis refleksi kritis, beliau juga memiliki hobby bermain sepak bola yang baginya menjadi ruang belajar tentang disiplin, solidaritas, dan semangat juang.              

Dewasa ini media sosial menjelmah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Banyak orang menggunakan Instagram, Facebook, Tiktok atau X untuk mencari informasi, menyampaikan pendapat, bahkan saling berdebat tentang sebuah isu yang sedang viral. Jelaslah media sosial memberikan ruang bebas bagi setiap orang untuk berbicara. Akan tetapi dibalik kebebasan itu ada satu kenyataan yang seringkali terjadi: banyak orang yang memilih bungkam karena takut pendapatnya ditolak atau diserang orang lain. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori komunikasi yang disebut spiral of Silence atau spiral kebungkaman yang dikemukakan oleh Ellisabeth Noelle-Neumann.

Menurut Noelle-Neumann, media cenderung memberikan perhatian yang lebih besar kepada pandangan yang dianggap dominan dalam masyarakat sehingga individu yang merasa berada pada posisi minoritas menjadi kurang berani mengungkapkan pendapatnya. Teori spiral of silence secara  unik  menyilang opini publik dan media.

Pada dasarnya individu sering takut dikucilkan dari lingkungan sosialnya. Karena takut akan dianggap berbeda atau didiskreditkan, biasanya seseorang akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapatnya. Apabila ia merasa opininya didukung banyak orang, ia akan berbicara dengan percaya diri. Sebaliknya, jika ia merasa opininya berbeda dari kebanyaakan, maka ia cenderung memilih diam. Perlahan suara kelompok mayoritas menjadi semakin kuat, sedangkan suara yang berbeda pandangan atau minoritas akan semakin menghilang.

Saya berpendapat bahwa teori ini cocok melihat situasi politik di media sosial saat ini. Ketika muncul isu politik tertentu, masyarakat sering terbagi menjadi dua kubu yang saling menyerang. Publik tidak lagi fokus pada apa yang menjadi substansi pembicaraan, tetapi lebih sibuk membela kelompoknya lalu melakukan outgroup derogation atau merendahkan kelompok luar. Akibatnya diskusi menjadi ruang untuk saling memprovokasi dan tidak sehat.

Kita bisa memperhatikannya setiap kali mendekati pemilu atau ketika muncul isu nasional yang sensitif. Kolom komentar media sosial sering dipenuhi pertengkaran, hinaan, bahkan ujaran kebencian. Orang yang mencoba menyampaikan pendapat yang netral atau lebih seimbang kadang justru diserang bukan dari satu sisi saja bahkan dari dua sisi sekaligus. Akhirnya, karena takut dihina atau dibully, banyak orang memilih untuk tidak ikut berbicara.

Pada sisi inilah spiral of silence terjadi. Individu yang sebenarnya mempunyai pandangan yang berbeda memilih bungkam karena merasa suaranya tidak aman untuk disampaikan. Akibatnya, kita lebih sering membaca pendapat yang sama dengan pandangan kita sendiri. Lama-lama kita merasa bahwa semua orang berpikir seperti kita. Inilah yang sering disebut sebagai echo chamber (ruang gema informasi).

Dalam ruang gema itu, orang semakin yakin bahwa pendapat kelompoknya adalah yang paling benar. Sebaliknya, individu yang berbeda perspektif merasa semakin sendirian. Mereka takut jika berbicara akan langsung diserang atau dipermalukan dihadapan banyak orang. Karena itu, mereka memilih diam.

Fenomena ini sebetulnya cukup berbahaya bagi kehidupan demokrasi. Demokrasi membutuhkan kebebasan berbicara dan ruang diskusi yang sehat. Jika masyarakat takut menyampaikan pendapat, maka diskusi tidak lagi berjalan secara jujur. Yang terdengar hanyalah suara kelompok yang paling keras, bukan suara segenap masyarakat.

Selain berpengaruh terhadap demokrasi, kondisi ini juga memengaruhi kehidupan pribadi banyak orang. Tak sedikit orang merasa cemas atau takut ketika ingin menulis sesuatu di media sosial, mereka khawatir akan menerima komentar kasar atau menjadi sasaran perundungan  digital. Dampaknya, media sosial yang semestinya menjadi tempat berbagi pikiran malah berubah menjadi ruang yang menekan.

Gejala spiral kebungkaman juga dapat menjelaskan mengapa hoaks atau berita palsu mudah menyebar. Ketika sebuah informasi terus diulang dan didukung oleh banyaknya akun, orang akan menganggap bahwa informasi tersebut benar. Sementara itu, orang yang tahu kalau informasi tersebut salah, seringkali tidak berani melawan karena takut akan dihina oleh banyak pengguna lain sehingga tak heran kebohongan terus menyebar dan dianggap sebagai kebenaran.

Karena itu, penting untuk masyarakat perlu belajar membangun budaya komunikasi yang lebih sehat. Perbedaan pendapat seharunysa tidak langsung dianggap sebagai sebuah ancaman. Dalam kehidupan sosial, perbedaan adalah hal yang normal. Orang harus bisa berdiskusi tanpa saling menghina atau menyerang secara ad hominem.

Selain itu, literasi digital juga sangat penting. Masyarakat perlu belajar menyaring informasi dan berpikir kritis sebelum percaya atau menyebarkan sesuatu di media sosial. Generasi muda juga perlu diajarkan bahwa komunikasi bukan hanya soal berbicara, tetapi juga soal mendengarkan dan menghargai orang lain.

Pada akhirnya, teori spiral of silence  membantu kita memahami bahwa banyak orang sebenarnya tidak benar-benar sependapat dengan opini mayoritas, tetapi mereka takut untuk berbicara. Dalam era media sosial sekarang, tekanan sosial menjadi semakin besar karena setiap pendapat bisa langsung mendapat respons dari banyak orang.

Karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan budaya komunikasi yang lebih dewasa. Mulai dari cara kita berkomentar di media sosial, cara menanggapi pendapat orang lain, sampai keberanian untuk berdiskusi tanpa saling menghina. Sebab pada akhirnya, kualitas komunikasi dalam masyarakat menentukan kulitas demokrasi dan kehidupan bersama kita.

Jika komunikasi dipenuhi rasa takut, cemas dan kebencian, masyarakat akan semakin terpecah. Akan tetapi jika komunikasi dibangun dengan rasa hormat serta keterbukaan menerima opini orang lain, maka media sosial dapat menjadi ruang yang membantu masyarakat tumbuh lebih kritis, bijak, dan manusiawi.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Spiral Of Silence dan Polarisasi Politik Di Media Sosial

No comments:

Post a Comment

Trending Now

Iklan