Oleh: Kayetanus
Andriano Ngeda Pesa
Tian Ngeda, merupakan mahasiswa tingkat III program
studi Filsafat di IFTK Ledalero. Beliau memiliki perhatian pada isu komunikasi
sosial dan polarisasi politik di tengah masyarakat modern. Melalui
tulisan-tulisan opini, beliau berusaha melihat bagaimana media dan dinamika
komunikasi membentuk cara masyarakat berpikir, berdialog, bahkan terpecah dalam
perbedaaan pandangan politik. Selain aktif menulis refleksi kritis, beliau juga
memiliki hobby bermain sepak bola yang baginya menjadi ruang belajar tentang
disiplin, solidaritas, dan semangat juang.
Dewasa ini media sosial menjelmah menjadi bagian
yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Banyak orang
menggunakan Instagram, Facebook, Tiktok atau X untuk mencari informasi,
menyampaikan pendapat, bahkan saling berdebat tentang sebuah isu yang sedang
viral. Jelaslah media sosial memberikan ruang bebas bagi setiap orang untuk berbicara.
Akan tetapi dibalik kebebasan itu ada satu kenyataan yang seringkali terjadi:
banyak orang yang memilih bungkam karena takut pendapatnya ditolak atau
diserang orang lain. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori komunikasi
yang disebut spiral of Silence atau
spiral kebungkaman yang dikemukakan oleh Ellisabeth Noelle-Neumann.
Menurut Noelle-Neumann, media cenderung memberikan
perhatian yang lebih besar kepada pandangan yang dianggap dominan dalam
masyarakat sehingga individu yang merasa berada pada posisi minoritas menjadi
kurang berani mengungkapkan pendapatnya. Teori spiral of silence secara unik
menyilang opini publik dan media.
Pada dasarnya individu sering takut dikucilkan dari
lingkungan sosialnya. Karena takut akan dianggap berbeda atau didiskreditkan,
biasanya seseorang akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapatnya.
Apabila ia merasa opininya didukung banyak orang, ia akan berbicara dengan
percaya diri. Sebaliknya, jika ia merasa opininya berbeda dari kebanyaakan, maka
ia cenderung memilih diam. Perlahan suara kelompok mayoritas menjadi semakin
kuat, sedangkan suara yang berbeda pandangan atau minoritas akan semakin
menghilang.
Saya berpendapat bahwa teori ini cocok melihat
situasi politik di media sosial saat ini. Ketika muncul isu politik tertentu,
masyarakat sering terbagi menjadi dua kubu yang saling menyerang. Publik tidak
lagi fokus pada apa yang menjadi substansi pembicaraan, tetapi lebih sibuk
membela kelompoknya lalu melakukan outgroup derogation atau merendahkan kelompok
luar. Akibatnya diskusi menjadi ruang untuk saling memprovokasi dan tidak
sehat.
Kita bisa memperhatikannya setiap kali mendekati
pemilu atau ketika muncul isu nasional yang sensitif. Kolom komentar media
sosial sering dipenuhi pertengkaran, hinaan, bahkan ujaran kebencian. Orang
yang mencoba menyampaikan pendapat yang netral atau lebih seimbang kadang
justru diserang bukan dari satu sisi saja bahkan dari dua sisi sekaligus.
Akhirnya, karena takut dihina atau dibully, banyak orang memilih untuk tidak
ikut berbicara.
Pada sisi inilah spiral
of silence terjadi. Individu yang sebenarnya mempunyai pandangan yang
berbeda memilih bungkam karena merasa suaranya tidak aman untuk disampaikan. Akibatnya,
kita lebih sering membaca pendapat yang sama dengan pandangan kita sendiri.
Lama-lama kita merasa bahwa semua orang berpikir seperti kita. Inilah yang
sering disebut sebagai echo chamber (ruang
gema informasi).
Dalam ruang gema itu, orang semakin yakin bahwa
pendapat kelompoknya adalah yang paling benar. Sebaliknya, individu yang
berbeda perspektif merasa semakin sendirian. Mereka takut jika berbicara akan
langsung diserang atau dipermalukan dihadapan banyak orang. Karena itu, mereka
memilih diam.
Fenomena ini sebetulnya cukup berbahaya bagi
kehidupan demokrasi. Demokrasi membutuhkan kebebasan berbicara dan ruang
diskusi yang sehat. Jika masyarakat takut menyampaikan pendapat, maka diskusi
tidak lagi berjalan secara jujur. Yang terdengar hanyalah suara kelompok yang
paling keras, bukan suara segenap masyarakat.
Selain berpengaruh terhadap demokrasi, kondisi ini
juga memengaruhi kehidupan pribadi banyak orang. Tak sedikit orang merasa cemas
atau takut ketika ingin menulis sesuatu di media sosial, mereka khawatir akan
menerima komentar kasar atau menjadi sasaran perundungan digital. Dampaknya, media sosial yang
semestinya menjadi tempat berbagi pikiran malah berubah menjadi ruang yang
menekan.
Gejala spiral kebungkaman juga dapat menjelaskan
mengapa hoaks atau berita palsu mudah menyebar. Ketika sebuah informasi terus diulang
dan didukung oleh banyaknya akun, orang akan menganggap bahwa informasi tersebut
benar. Sementara itu, orang yang tahu kalau informasi tersebut salah,
seringkali tidak berani melawan karena takut akan dihina oleh banyak pengguna
lain sehingga tak heran kebohongan terus menyebar dan dianggap sebagai
kebenaran.
Karena itu, penting untuk masyarakat perlu belajar
membangun budaya komunikasi yang lebih sehat. Perbedaan pendapat seharunysa
tidak langsung dianggap sebagai sebuah ancaman. Dalam kehidupan sosial,
perbedaan adalah hal yang normal. Orang harus bisa berdiskusi tanpa saling
menghina atau menyerang secara ad hominem.
Selain itu, literasi digital juga sangat penting.
Masyarakat perlu belajar menyaring informasi dan berpikir kritis sebelum
percaya atau menyebarkan sesuatu di media sosial. Generasi muda juga perlu
diajarkan bahwa komunikasi bukan hanya soal berbicara, tetapi juga soal
mendengarkan dan menghargai orang lain.
Pada akhirnya, teori spiral of silence membantu
kita memahami bahwa banyak orang sebenarnya tidak benar-benar sependapat dengan
opini mayoritas, tetapi mereka takut untuk berbicara. Dalam era media sosial
sekarang, tekanan sosial menjadi semakin besar karena setiap pendapat bisa
langsung mendapat respons dari banyak orang.
Karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk
menciptakan budaya komunikasi yang lebih dewasa. Mulai dari cara kita
berkomentar di media sosial, cara menanggapi pendapat orang lain, sampai
keberanian untuk berdiskusi tanpa saling menghina. Sebab pada akhirnya,
kualitas komunikasi dalam masyarakat menentukan kulitas demokrasi dan kehidupan
bersama kita.
Jika komunikasi dipenuhi rasa takut, cemas dan
kebencian, masyarakat akan semakin terpecah. Akan tetapi jika komunikasi
dibangun dengan rasa hormat serta keterbukaan menerima opini orang lain, maka
media sosial dapat menjadi ruang yang membantu masyarakat tumbuh lebih kritis,
bijak, dan manusiawi.

No comments:
Post a Comment